Minggu, 28 Desember 2014

Bisnis Kelapa Sawit Jadi Peluang

Pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan per kapita, dan rendahnya konsumsi minyak kelapa sawit pada negara berkembang menjadi faktor penggerak untuk bisnis dalam jangka panjang.

Serta kenaikan permintaan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebagai bahan baku untuk makanan. "Artinya kesempatan bagi kita (pelaku usaha)," kata Managing Director Asian Agri Group, Kelvin Tio di Singapura, Jumat (5/12/2014).

Ia memperkirakan kebutuhan minyak kelapa sawit secara global mencapai 78,3 juta metrik ton pada 2020. Jumlah tersebut akan dipenuhi oleh industri kelapa sawit Indonesia sekitar 43,4 juta metrik ton. Lalu diikuti Malaysia sekitar 21,2 juta metrik ton ton.

Menurut Kelvin, 'Negeri Jiran' telah mengalami kendala pada keterbatasan lahan. Alhasil, Indonesia mendominasi industri minyak kelapa sawit secara global dengan pertumbuhan produksi.

Berdasarkan data Asosiasi Ahli Perminyakan Malaysia (Malaysian Oil Scientists and Technologists Association/MOSTA), Indonesia memproduksi 30 juta metrik ton minyak kelapa sawit pada 2013 atau setara dengan 53 persen pemanfaatan secara global. Sedangkan Malaysia sekitar 19 juta metrik ton atau 33 persen.

Kenaikan permintaan minyak kelapa sawit seiring sejumlah negara yang memanfaatkan produk itu sebagai bahan baku untuk makanan. Seperti Bangladesh, Pakistan, dan Amerika Serikat. Meski sebelumnya minyak nabati mendominasi negara tersebut. Peralihan tersebut didukung rendahnya harga minyak kelapa sawit.

Akan tetapi kondisi tersebut juga mengancam program konversi. Karena harga minyak dunia turun maka ada selisih harga. "Tidak lagi feasible (layak) melakukan konversi, kalau pemerintah hanya menghimbau bukan memberikan sanksi bila tidak melaksanakan," paparnya.

Limbah kelapa sawit juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Kelvin mengatakan Asian Agri Group akan memulai commisioning lima pabrik yang berkapasitas masing-masing 2 megawatt (MW) pada April 2015. Realisasi itu merupakan bentuk keikutsertaan Asian Agri Group dalam memproduksi energi terbarukan.

Asian Agri Group juga akan memperluas lahan kelapa sawit. Perusahaan kelapa sawit itu berencana menambah lahan seluas 60 hektare (ha) hingga 2020 melalui program petani swadaya, sehingga menjadi 220 ribu ha. Saat ini Asian Agri Group mengelola 160 ribu ha lahan kelapa sawit. Luas itu memproduksi sebanyak 1 juta metrik ton CPO. Selain perluasan lahan, Asian Agri Group juga melakukan penanaman kembali (replanting) seluas 8 ribu ha per tahun.

Kelvin menambahkan Asia Agri Group juga menargetkan kebun inti dan plasma akan tersertifikasi dengan RSPO pada 2015. Sebelumnya, kedua wilayah sudah tersertifikasi dengan ISCC.
 
artikel lainnya

RITEL MODERN Di Riau Wajib Jual Produk UKM Minimal 20%

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pekanbaru telah mengesahkan peraturan daerah tentang pengelolaan pasar, yang turut mengatur kewajiban ritel menjual produk usaha mikro kecil menengah (UMKM).
 
Ketua Panitia Khusus (Pansus) Perda Pasar Tengku Azwendi Fajri mengatakan dengan penegsahan perda ini, pihaknya optimistis dapat mendorong pertumbuhan UMKM lokal dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
 
"Dari aturan tentang kewajiban memasok produk dalam negeri, ada aturan kewajiban bagi ritel menjual produk UMKM lokal minimal 20%," katanya, Minggu (28/12/2014).
Ritel yang dituju dari aturan ini yaitu dari berbagai kelompok usaha mulai dari minimarket, supermarket hingga swalayan dan hipermarket.
 
Selain aturan yang mengatur pewajiban tersebut, dilakukan juga upaya peningkatan sumber daya manusia pelaku UMKM dengan mengadakan pelatihan dan pembinaan yang akan dilakukan oleh dinas terkait.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pekanbaru Zulkifli mengatakan pihaknya sangat mendukung Perda yang telah disahkan tersebut. Menurutnya, dengan adanya aturan ini akan semakin menguatkan landasan hukum pewajiban menjual produk UMKM di gerai ritel.
 
"Saat ini sebenarnya sudah ada beberapa gerai ritel yang menjual produk UMKM di Pekanbaru, tetapi belum wajib. Dengan aturan ini diharapkan semua toko mengikuti dan menerapkan aturan ini," katanya.
Produk UMKM yang dijual di gerai ritel menurut Zulkifli, sudah mampu bersaing dan cukup diminati masyarakat Pekanbaru. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari produk UMKM tersebut sehingga dapat bersaing dengan produk dari luar.
 
Kekurangan tersebut di antaranya kemasan produk yang masih sederhana, jenis dan ukuran produk yang kurang beragam dan peningkatan kualitas produk.
 
"Untuk mengatasi berbagai kekurangan ini, kami sudah melakukan berbagai program diantaranya penyuluhan dan pendampingan UMKM, dan juga pelatihan kepada pengusaha lokal," katanya.
 
Menurut data Diskop UMKM, saat ini ada sekitar 12.800 pelaku usaha yang telah menjalankan bisnis dan memasarkan produk mereka, baik di Pekanbaru hingga ke luar daerah.